Category Archives: Parenting

Terapkan Konsekuensi Logis

sat-jakarta.com – Di sisi lain, kita juga perlu memerhatikan cara kita mendisiplinkan anak. Sampai usia prasekolah, menurut Nessi, cara reward and punishment masih bisa diterapkan. Anak masih bisa dialihkan perhatiannya ke reward yang akan ia peroleh jika ia mau melakukan yang kita minta. Namun, untuk pu nishment sebaiknya juga lakukan sesuatu yang logis.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

Contoh, kalau anak bangun tidur dan ternyata ngompol, anak malah dimarahi dan dilabel “sudah besar kok ngompol,” cara ini tentu tak membuat anak kapok ngompol, kan. Sebaiknya, begitu tahu anak ngompol, minta ia melepaskan celana, menaruhnya ke tempat cucian kotor, dan membersihkan diri di kamar mandi.

Kalau perlu, minta tolong anak membantu membersihkan bekas ompolnya. Jadi, anak bisa menerima konsekuensi logis dari perbuatannya. Anak juga tahu bahwa setiap perilaku itu dilakukan karena memang perlu, penting, dan ada aturan yang logis di baliknya. Seperti kasus mengompol tadi. Cara-cara melabel, memarahi, bahkan menghukum tanpa diberi penjelasan logis, ternyata hanya mengatasi masalah disiplin anak untuk jangka pendek.

Sebab, penekanannya bukan pada proses, tetapi hasil. Jadinya, motivasi berperilaku disiplin pun muncul karena tekanan dari orangtua, tidak dari dalam diri sendiri. Kepatuhan yang ada hanya sementara dan anak bisa melakukan apa pun demi semata tidak melanggar aturan.

Dari Keseharian Anak

Menerapkan disiplin pada anak prasekolah bisa dimulai dari keseharian anak. Misalnya kegiatan tidur, bangun, mandi, makan/minum, bermain, dan seterusnya. Melakukan aktivitas harian pun harus konsisten. Konsisten berarti kita melakukannya terusmenerus, dengan pola dan konsekuensi serupa, tidak berubah-ubah.

Kita pun harus kompak dengan pasangan, juga pengasuh saat menerapkannya. Misalnya, anak hanya boleh bermain game favoritnya lewat HP Mama. Jangan malah om atau tante memberikan HP cuma agar anak anteng. Lain waktu, anak ingin makan cokelat. Padahal, kesepakatannya anak hanya boleh makan 2 butir permen cokelat di akhir pekan.

Saat kita tegas tidak mengizinkan di hari lain, sementara neneknya mengizinkan, hal-hal seperti inilah yang akan membingungkan anak, sekaligus member inya celah untuk mengeluarkan jurus mautnya, yakni menangis dan merengek agar keinginannya dituruti. Kalau sudah begini, siapa yang lebih susah?

Solusi Tepat & Alami Bagi Anak Sulit Makan

Jumpa lagi di Sharing Moment nakita (SMN) dengan Ultra Mimi Setelah sebelumnya nakita dan Ultra Mimi menyelenggarakan SMN di Jakarta, kini kami mengunjungi warga Bekasi. Antusiasme para Mama dan Papa hebat di sini pun tak kalah hebat. Di RS Hermina Bekasi, para peserta seminar tampak tak sabar menantikan presentasi Dr. Catharine M. Sambo, SpA tentang “Solusi Tepat & Alami Bagi Anak Sulit Makan”. Hampir semua orangtua mengalami masalah ini, bukan? Menurut Catharine, sulit makan pada anak memang merupakan salah satu kekhawatiran orangtua terbesar.

Yang perlu diketahui, prinsip makan sebenarnya hampir sama dengan prinsip bermain. Ini artinya makan harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. “Orangtua juga harus tahu kapan anak merasa kenyang dan kapan ia lapar. Karena itulah pembentukan jadwal makan yang teratur amat penting,” jelas Catharine. Selain jadwal dan variasi menu makanan, keseimbangan nutrisi anak juga harus diperhatikan.

Pada kesempatan ini, Nana, Assistant Brand Manager dari Ultra Mimi menjelaskan kebaikan susu cair UHT Ultra Mimi dalam menyeimbangkan nutrisi pada menu si kecil. Ultra Mimi diproduksi menggunakan Teknologi UHT dan Kemasan aseptik yang akan selalu menjaga kesegaran dan nutrisi alami susu tanpa bahan pengawet. Selain itu, komposisi Ultra Mimi juga telah disesuaikan dengan kebutuhan anak usia 2-6 tahun, terlihat dari pemenuhan persen AKG untuk usia tersebut.

Hal ini untuk memudahkan orangtua mengatur menu makan dan susu si kecil setiap harinya. Di akhir SMN, nakita dan Ultra Mimi mengunjungi beberapa pasien cilik yang tengah terbaring sakit di RS Hermina Bekasi. Kehadiran kami semata untuk mendoakan agar anak-anak dapat cepat sembuh dan segera ceria kembali. Semoga Sharing Moment nakita dan Ultra Mimi selalu dapat memberikan banyak inspirasi bagi Mama Papa!

Kontrol Pertama untuk Mama Hamil

Umumnya dilakukan di usia 2—4 minggu. Biasanya dokter akan meluangkan waktu lebih banyak untuk mengenal ibu dan bayinya; dari menanyakan bagaimana menjadi orangtua, bagaimana kondisi bayi, apakah pernah si kecil kesulitan buang angin dan sendawa, mendapat ASI atau formula, bagaimana pola tidurnya, hingga bagaimana pup dan pipisnya. Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan berikut: ? Pertumbuhan bayi, yakni berat badan, panjang badan, dan ukuran lingkar kepala. ? Mengamati kulit bayi, seperti: ada-tidak ruam, tandatanda lahir, kuning atau tidak. Selain itu, apakah ada heat rash (biang keringat) atau alergi, atau infeksi virus kalau memang ada demam.

? Kondisi ubun-ubun. Normalnya masih terbuka sampai usia 18 bulan dan tidak memboncol. Jika menutup terlalu dini, diskusikan dengan dokter karena mungkin butuh pendapat ahli neurologi. Takutnya, otak tidak punya tempat untuk berkembang. Jika memboncol, diskusikan apakah ada peninggian tekanan di dalam rongga kepala yang bisa akibat hidrosefalus, meningitis, misalnya.

? Mengamati dada bayi, mendeteksi adanya kesulitan bernapas atau tidak. Jika menurut Mama, dada bayi tidak sama seperti kebanyakan dada bayi lainnya (misal, lebih cekung atau cembung alias dada burung), diskusikan dengan dokter. Belum tentu ada kelainan, tetapi baiknya ditanyakan apakah ada kemungkinan kelainan organ di dalam rongga dada, misal.

? Memeriksa paru-paru. Merupakan pemeriksaan rutin untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pada paruparu. Dilakukan dengan melihat, meraba, mengetuk, dan mendengarkan bunyi paru melalui stetoskop. ? Menilai jantung. Merupakan pemeriksaan rutin untuk mengetahui kondisi jantung: besarnya, gerakannya, iramanya, jenis bunyinya, ada tidaknya bunyi jantung tambahan. ? Mengamati gerak-gerik bayi. Kalau si kecil sehat, dia aktif bergerak, menggeliat, menatap, tersenyum, bersuara, menendang, dan berespons terhadap lingkungannya.

? Memeriksa pinggul bayi untuk mengetahui pergerakannya dan posisi pangkal paha di mangkok sendi pinggul. Hal ini penting diperiksa dokter untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan sendi panggul. ? Memeriksa perut untuk memastikan tidak ada tumor dan tidak ada pembesaran organ. ? Memeriksa tali pusat untuk mengetahui ada tidaknya infeksi.

? Memeriksa alat kelamin untuk mengetahui ada tidaknya hernia, apakah kedua buah zakar teraba di kantong kemaluan. ? Memeriksa mata, hidung, telinga. Merupakan pemeriksaan rutin, dilakukan dengan melihat, meraba, serta mempergunakan otoskop (alat untuk melihat ke rongga telinga dan gendang telinga). Tujuannya, untuk mengetahui ada tidaknya kelainan, baik itu kelainan infeksi maupun noninfeksi.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat kursus IELTS jakarta terbaik untuk persiapan yang lebih matang.