Hindari Kolesterol Pada Anak Bagian 2

Tujuannya agar anak mengalami pertumbuhan sehat dan perkembangan otak optimal. Paling baik, hingga usia 2 tahun anak mendapat asupan lemak dari ASI, MPASI, dan makanan keluarga. Lepas, usia 2 tahun, anak hanya membutuhkan lemak sebanyak 30% dari total kalori harian. Jika sebelumnya ia mengonsumsi susu jenis whole milk, pelan-pelan kenalkan susu yang kandungan lemaknya lebih rendah, yaitu semiskimmed milk. GANGGU KESEHATAN Saat ini, ada kecenderungan hiperkolesterolemia pada anak meningkat terkait pola hidup kurang sehat. Misalnya, anak gemar mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula, sementara ia sulit sekali diminta makan sayur. Ditambah, anak semakin pasif bergerak karena menyukai tren permainan online, serta telepon seluler yang bisa menyajikan banyak sekali hiburan seperti  lm, game, lagu, aktivitas jejaring sosial, dan lainnya. Pola hidup yang tak sehat ini membuat semakin banyak anak mengalami kelebihan berat badan yang diduga dapat memicu hiperkolesterolemia.

Hal ini sejalan dengan penemuan WHO yang menunjukkan, di tahun 2010, 43 juta anak di bawah 5 tahun mengalami kelebihan berat badan. Hampir 35 juta anak kelebihan berat badan tinggal di negara berkembang dan 8 juta lainnya di negara maju. Bagaimana dengan Indonesia? Untuk anak di bawah 5 tahun, penderita obesitas mencapai 12,2% pada 2007, lalu meningkat 14,2% pada 2010 (Kompas.com). Biasanya, obesitas berjalan seiring dengan kadar kolesterol yang tinggi. Artinya, kalau Papa Mama memiliki anak yang obesse (gemuk), coba cek kolesterolnya. Selain faktor pola hidup, hiperkolesterolemia juga bisa dipicu genetik atau keturunan, meskipun persentasenya sangat kecil. Faktor pola hidup dan pola makan jauh lebih menentukan apakah anak memiliki berat badan berlebih atau tidak. Jadi, peran Papa dan Mama sangatlah menentukan untuk mendorong anak untuk banyak bergerak dan mengonsumsi gizi seimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.