AKTIVITAS FUN Sang Anak

Salah satu tantangan bagi orangtua seperti kita adalah selalu menyediakan mainan/permainan yang dapat menarik perhatian si kecil sekaligus bisa menstimulasi sesuai dengan tahapan tumbuh-kembangnya. Terkait itu, idealnya kita perlu mengenali kebutuhan belajar anak pada setiap tahapan sehingga dapat menyediakan permainan atau stimulasi yang tepat untuknya. Ingatlah selalu bahwa di mata si kecli, setiap hal yang tampak biasa di mata orang dewasa, selalu tampak baru dan menakjubkan baginya. Untuk kegiatan menyobeki kertas, ada beberapa alternatif kegiatan yang kira-kira dapat memberikan manfaat dan kesenangan yang sama bagi si kecil.

Jika si kecil tertarik dengan suara yang ditimbulkan saat ia menyobeki kertas, kita bisa mengarahkannya untuk memainkan benda-benda lain yang sama-sama mengeluarkan bunyi-bunyian, sekaligus menantang tangan kecilnya untuk bereksplorasi. Misal, membuka dan menutup ritsleting, membuka dan menutup suatu wadah, melepas, dan menempelkan kain velcro pada penutup popok sekali pakainya, dan sebagainya. Sementara, jika si kecil tertarik pada tekstur dan bentuk kertas, kenalkan ia pada aneka tekstur benda-benda yang ada di rumah. Seperti permukaan rumput basah, kain, handuk, atau bulu-bulu bonekanya.

Pusar Bodong TAK PERLU Dikhawatirkan

Pusar Bodong TAK PERLU Dikhawatirkan – Setelah tali pusat lepas, ada kalanya pusar menunjukkan semacam tonjolan. Ini dinamakan granuloma atau dalam bahasa awam disebut pusar bodong. Pusar bodong tak perlu dikhawatirkan. Tonjolan ini terjadi karena kemungkinan ada jaringan yang ikut keluar. Kadang-kadang bagian ini basah, sehingga meninggalkan bercak kuning atau kecokelatan yang menempel pada bagian depan popok bayi. Ini normal. Tonjolan akan mengempes sendirinya tanpa perlu tindakan apa pun seperti dioles dengan minyak yang katanya mampu mengubah pusar bodong. Tak perlu pula menggunakan koin yang ditekankan pada bagian pusar bodong si bayi. Lebih penting menjaga pusar ini tetap kering.

baca juga : SAT Registration Jakarta

Cara merawatnya seperti yang sudah disinggung sebelumnya. Pusar bodong juga berbeda dari hernia umbilikalis (adanya penonjolan usus di bagian pusar). Hernia bisa terjadi di bagian pusar (umbilical), di selangkangan atau lipat paha, dan pada anak laki-laki di bagian buah zakarnya. Tanda-tanda bayi mengalami hernia umbilikalis, bila bayi mengedan atau menangis maka tonjolannya akan muncul. Pada bayi dengan kasus hernia umbilikalis ini, dokter akan mengobservasi dulu. Selama tidak membahayakan tidak akan dilakukan tindak apa pun. Apalagi untuk melakukan operasi tentunya ada persyaratannya seperti berat badan, usia, dan sebagainya. Tindakan dilakukan bila kondisinya membahayakan misalnya, usus bayi sampai terjepit di dinding perut.

Hindari Kolesterol Pada Anak Bagian 2

Tujuannya agar anak mengalami pertumbuhan sehat dan perkembangan otak optimal. Paling baik, hingga usia 2 tahun anak mendapat asupan lemak dari ASI, MPASI, dan makanan keluarga. Lepas, usia 2 tahun, anak hanya membutuhkan lemak sebanyak 30% dari total kalori harian. Jika sebelumnya ia mengonsumsi susu jenis whole milk, pelan-pelan kenalkan susu yang kandungan lemaknya lebih rendah, yaitu semiskimmed milk. GANGGU KESEHATAN Saat ini, ada kecenderungan hiperkolesterolemia pada anak meningkat terkait pola hidup kurang sehat. Misalnya, anak gemar mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula, sementara ia sulit sekali diminta makan sayur. Ditambah, anak semakin pasif bergerak karena menyukai tren permainan online, serta telepon seluler yang bisa menyajikan banyak sekali hiburan seperti  lm, game, lagu, aktivitas jejaring sosial, dan lainnya. Pola hidup yang tak sehat ini membuat semakin banyak anak mengalami kelebihan berat badan yang diduga dapat memicu hiperkolesterolemia.

Hal ini sejalan dengan penemuan WHO yang menunjukkan, di tahun 2010, 43 juta anak di bawah 5 tahun mengalami kelebihan berat badan. Hampir 35 juta anak kelebihan berat badan tinggal di negara berkembang dan 8 juta lainnya di negara maju. Bagaimana dengan Indonesia? Untuk anak di bawah 5 tahun, penderita obesitas mencapai 12,2% pada 2007, lalu meningkat 14,2% pada 2010 (Kompas.com). Biasanya, obesitas berjalan seiring dengan kadar kolesterol yang tinggi. Artinya, kalau Papa Mama memiliki anak yang obesse (gemuk), coba cek kolesterolnya. Selain faktor pola hidup, hiperkolesterolemia juga bisa dipicu genetik atau keturunan, meskipun persentasenya sangat kecil. Faktor pola hidup dan pola makan jauh lebih menentukan apakah anak memiliki berat badan berlebih atau tidak. Jadi, peran Papa dan Mama sangatlah menentukan untuk mendorong anak untuk banyak bergerak dan mengonsumsi gizi seimbang.

Hindari Kolesterol Pada Anak

Kalau si buah hati bertubuh gemuk, coba cek kolesterolnya. Dibanding anak dengan berat badan ideal, kadar kolesterol anak gemuk cenderung lebih tinggi. Hal ini tentu saja tak boleh dibiarkan Seorang Mama, iseng- iseng memeriksakan kadar kolesterol anaknya yang berusia 8 tahun. Ia terdorong melakukannya karena si anak sulit sekali makan sayur dan buah. Ia lebih senang makan junk food atau makanan yang kadar gula atau lemaknya sangat tinggi.

Tak dinyana, kadar kolesterol nya di atas batas normal, yakni 220 mg/dL. Sesungguhnya, kolesterol adalah lemak yang disirkulasikan di dalam darah. Ada dua jenis kolesterol: HDL (High-Density Lipoprotein) disebut juga kolesterol baik dan LDL (Low Density Lipoprotein) sering disebut kolesterol jahat. Kedua jenis kolesterol ini sangat dibutuhkan untuk metabolisme tubuh, melindungi saraf, membangun jaringan sel, serta memproduksi beberapa jenis hormon tertentu.

Baca Juga : Kursus SAT Jakarta

Namun jika kadar LDL terlalu tinggi, kehadirannya dapat menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan ini dapat berlangsung sejak anak masih kecil sampai dewasa. Kadar LDL yang terlalu tinggi disebut hiperkolesterolemia. Berbagai risiko penyakit muncul mengikuti kondisi tersebut, antara lain penyakit gangguan pembuluh darah, penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi. Sebaliknya, jika kadar kolesterol HDL tinggi, ini yang diharapkan karena salah satu fungsinya adalah melarutkan kolesterol jahat (LDL). BATAS TINGGI & DIET Pada anak, kadar kolesterol total dalam darah (HDL dan HDL) yang diperbolehkan adalah sekitar 170 mg/dL dengan kadar LDL kurang dari 110 mg/dL. Kadar kolesterol total pada anak memiliki batas tinggi yaitu, 170—199 mg/dL. Sedangkan untuk LDL anak, batas tingginya adalah 110—129 mg/dL.

Jadi, seorang anak akan didiagnosis mengalami hiperkolesterolemia jika total kolesterol dalam darahnya mencapai 200 mg/dL (total), atau kadar LDL-nya mencapai 130 mg/dL. Akademi Ilmu Kesehatan Anak Amerika (American Academy of Pediatrics) serta Program Nasional Pendidikan Kolesterol (National Cholesterol Education Program) di Amerika menganjurkan orangtua agar mengurangi konsumsi lemak yang sarat kolesterol pada anak sejak usianya dua tahun. Kenapa di atas usia 2 tahun? Sebab di bawah 2 tahun, meski berat badan anak sudah berlebih, ia tidak boleh berdiet rendah lemak. Para ahli gizi sepakat, anak harus memenuhi 50% kalori hariannya dari lemak dan 50% sisanya dari karbohidrat, protein, serta zat gizi lain.